Rabu, 14 Maret 2012

Mang Idin, Pendekar Lingkungan

Bapak ini selalu memakai kaos oblong putih, celana panjang batik, dan ikat pinggang lebar. Sebilah golok selalu tergantung di ikat pinggangnya. Itulah Mang Idin. 

Penampilannya persis seperti seorang pendekar. Mang Idin memang pendekar, tapi bukan pendekar silat, lho. Mang Idin pendekar lingkungan.

Sungai yang Bersih   
 
Mang Idin lahir dan dibesarkan di daerah Pondok Labu, Jakarta. Daerah itu dilalui Kali Pesanggrahan. Beliau ingat betul, sekitar tahun 1960-an, Kali Pesanggrahan sangat bersih. 

Pinggir kali ditumbuhi pepohonan. Mang Idin sering memancing di sana dan mendapat banyak ikan. Tapi sayang, sungai itu makin lama makin kotor.

Binatang-binatang yang biasa berkeliaran di sana pun tak ada lagi. Mang Idin tak bisa menahan diri untuk mencari tahu, apa penyebabnya.

Pada tahun 1993 Mang Idin menyusuri Kali Pesanggrahan. Dimulai dari Gunung Pangrango, hingga Muara Kapuk di Jakarta Utara. 

Enam hari lima malam Mang Idin menyusuri kali itu hanya dengan menggunakan rakit batang pisang. Mang Idin melihat, pohon-pohon di pinggir kali ditebangi. 

Dikira Orang Gila   
 
Menurut Mang Idin, alam mempunyai aturan tata ruang sendiri. Nah, menurut aturan itu, pinggir kali seharusnya hutan. Bukan bangunan. Dari situ itu, timbullah niat Mang Idin untuk menata kembali lingkungan sekitar tempat tinggalnya. 

Mang Idin membersihkan Kali Pesanggrahan dari sampah-sampah. Mang Idin menanam pohon di pinggir kali.
Mang Idin juga menyadarkan pemilik rumah yang membangun pagar tinggi hingga ke bantaran kali, sampai mereka merelakannya untuk dibongkar.
 
Saat itu banyak yang mengira Mang Idin sudah gila. Tapi Mang Idin tidak peduli. 

Sadar bahwa usahanya tidak bisa dilakukan sendiri, Mang Idin mengajak tetangganya untuk mendirikan Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KLTH) Sangga Buwana. 

Mereka mengadakan pertemuan sebulan dua kali. Setiap anggota wajib membawa bibit pohon apa saja. Lalu mereka menanamnya bersama-sama. 

Sampai sekarang KLTH sudah menanam ribuan pohon di lahan seluas 120 hektar. Mereka juga menebarkan ikan dan lele ke sungai. 

Kini pinggir Kali Pesanggrahan menjadi hijau dan sejuk lagi. Warga sekitar bisa mengambil obat-obatan, daun pisang, melionjo, atau rebung secara gratis.

Burung-burung mulai terdengar lagi cericitnya di sana. Bahkan biawak, ular, dan reptil  lain pun betah tinggal di sana. Itulah Mang Idin, ia menyingsingkan lengan bajunya bukan untuk bersilat, tapi untuk menjaga lingkungan.


Sumber : http://www.kidnesia.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments